fungsi kerajaan islam pasca kemerdekaan

PERGERAKAN UMAT ISLAM PASCA KEMERDEKAAN

Masa Revolusi fisik

Setelah Indonesia merdeka, keadaan di Indonesia belum sepenuhnya membaik, hal itu karena Belanda yang pernah menjajah Indonesia ingin menguasai indonesia kembali. Untuk itu Indonesia berusaha mengukuhkan pengakuan secara de facto dan de jure dari Internasional. Pada waktu itu salah satu tokoh islam Haji Agus Salim, yang kebetulan menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia melakukan diplomasi ke negara-negara Timur Tengah dan berhasil membawakan pengakuan dari tujuh negara yang antara lain : Mesir, Siria, Iran, Lebanon, Arab Saudi, Yaman, dan Afghanistan. Dengan adanya pengakuan de jure ini, maka dengan hal ini dapat mendorong Belanda untuk pergi dari Indonesia.[1]
Seminggu setelah kemerdekaan Soekarno mengusulkan pembentukan partai pembantu presiden dan partai tunggal yaitu PNI atau Partai Nasional Indonesia. Namun hal ini ditentang oleh para tokoh yang menginginkan kehidupan demokratis, khususnya Muhammad Syahrir, menurutnya pembentukan partai tersebut akan mengarah pada otoritarisme. Akhirnya keinginan beliau didukung oleh KNIP( Komite Nasional Indonesia Puat). Dari situlah Soekarno menyetujui keinginan tersebut. Untuk kemudian, mulailah diberlakukanya sistem parlementer, yang mana membuka kesempatan parpol untuk berpartisipasi di kancah legislatif.
Pada tanggal 3 November 1945 Wapres mengeluarkan maklumat tentang diperbolekanya mendirikan parpol. Dalam kesempatan ini, umat islam menyambutnya dengan mengadakan kongres pada tanggal 7-8 November, dan menghasilkan pendirian parpol yang dinamakan Masyumi. Umat islam, menyuarakan aspirasinya dengan partai Masyumi, dimana didalamnya terdapat beberapa organisasi yang terbentuk, seperti : NU, STII, PSII, dll. Masyumi pernah meraih suara mayoritas dari penyelanggaraan pemilu tahun 1946 dan 1951 didaerah jawa dan Yogyakarta. [2]
Partai masyumi tidak sepenuhnya berjalan mulus. Dikarenakan persoalan tertentu, ditahun 1947-1952 terdapat partai yang keluar dari masyumi, yaitu NU dan PSII. Puncaknya yaitu adanya keputusan dibubarkanya Masyumi oleh Presiden pada tahun 1960 dikarenakan tuduhan keterlibatan dalam pemberontakan PRRI pada tahun 1957-1958. Selain itu umat islam juga terlibat dalam menghadapi pasukan belanda, yaitu barisan Hizbullah dan Sabilillah.

RECENT POSTS