Pengertian Mobilitas Sosial

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial. Mobilitas Sosial (Gerakan sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya

Ada beberapa pendapat para ahli tentang pengertian Mobilitas Sosial, di antaranya:

  1. Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya[1].
  2. William Kornblum (1918: 172), Mobilitas sosial adalah perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga, dan kelompok sosialnya dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya.
  3. Michael S. Bassis (1988: 276), Mobilitas sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah lingkungan sosial ekonomi yang mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.
  4. H. Edward Ransfrod (Sunarto, 2001: 108), Mobilitas sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah dalam lingkungan sosial secara hirarki.
  5. Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.

Jadi, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain. Misalnya, seorang gur yang tidak puas dengan pendapatannya  beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha properti dan berhasil dengan gemilang.

  1. Sifat Dasar Mobilitas Sosial

Masyarakat yang berkelas sosial terbuka adalah masyarakat yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi sedangkan masyarakat yang berkelas sosial tertutup adalah masyarakat yang memiliki tingkat mobilitas yang rendah.

Pada masyarakat berkasta yang sifatnya tertutup, hampir tak ada gerak sosial karena kedudukan seseorang telah ditentukan sejak dilahirkan. Pekerjaan, pendidikan dan seluruh pola hidupnya. Karena struktur sosial masyarakatnya tidak memberikan peluang untuk mengadakan perubahan.

Dalam sistem lapisan terbuka, kedudukan yang hendak dicapai tergantung pada usaha dan kemampuan individu. Memang benar bahwa anak seorang camat mempunyai peluang yang lebih baik dan lebih besar daripada anak seorang penjual tomat. Akan tetapi, kebudayaan dalam masyarakat tidak menutup kemungkinan bagi anak penjual tomat untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan yang semula dipunyainya.Seperti Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, dll. Namun kenyataan tidaklah seideal itu. Dalam masyarakat selalu ada hambatan dan kesulitan-kesulitan, misalnya birokrasi (dalam arti yang kurang baik), biaya, kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat, dan lain sebagainya[2]

Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial para individu berbeda, maka mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, maka tentu saja kebanyakan orang akan terkungkung dalam status para nenek moyang mereka.

  1. Bentuk-bentuk Mobilitas Sosial

Dilihat dari arah pergerakannya terdapat dua bentuk mobilitas sosial , yaitu mobilitas sosial vertikal  dan mobilitas sosial horizontal.

Mobilitas sosial vertikal dapat dibedakan lagi menjadi social sinking dan social climbing.

Sedangkan mobilitas horizontal dibedakan menjadi mobilitas sosial antar wilayah (geografis) dan mobilitas antar generasi.

  1. Mobilitas vertical

Mobilitas Vertikal : adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang tidak sederajat (berbeda). Mobilitas vertikal mempunyai dua bentuk yang utama :

  1. Mobilitas vertikal keatas (Social Climbing)

Sosial climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau kedudukan seseorang Sosial climbing memiliki dua bentuk, yaitu :

1)      Naiknya orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status itu telah tersedia. Contoh: A adalah dosen biasa di salah satu Perguruan Tinggi, karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi dekan fakultas

2)      Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada. Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik. Seperti seorang anggota partai yang mendirikan partai baru dan dia menjadi ketua.

Adapun penyebab sosial climbing adalah sebagai berikut :

–          Melakukan peningkatan prestasi kerja

–          Menggantikan kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi

  1. Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking)

 Sosial sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan seseorang. Proses sosial sinking sering kali menimbulkan gejolak psikis bagi seseorang karena ada perubahan pada hak dan kewajibannya.

Social sinking dibedakan menjadi dua bentuk :

1)      Turunnya kedudukan seseorang ke kedudukan lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya.

2)      Tidak dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial. Contoh Kepala daerah yang disenangi masyarakat karena kedermawanannya akhirnya dipecat karena  terbukti melakukan korupsi.

Penyebab sosial sinking adalah sebagai berikut.:

–          Berhalangan tetap atau sementara.

–          Memasuki masa pensiun.

–          Berbuat kesalahan fatal yang menyebabkan diturunkan atau di pecat dari jabatannya.

 

sumber :

https://radiomarconi.com/