Mengenal Lebih Dekat Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i Rahimahullahu

Mengenal Lebih Dekat Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i Rahimahullahu

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan sunnah dan akan menyingkirkan pendusta terhadap Nabi Muhammad SAW. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah mentakdirkan Imam Syafi’i.”

v  Silsilah dan Kelahiran Imam Syafi’i

Beliau bernama Muhammad bin Idris. Gelar beliau abu abdillah. Orang Arab dalam menuliskan nama biasanya mendahulukan gelar dari nama sehingga nama beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris.[1] Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada diri Abdu Manaf (suku Quraisy). Nasab beliau dari ayahandanya ialah bin Idris bin Abbas bin Ustman bin Syafi’i bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Sedangkan dari ibunya ialah binti Fathimah binti Abdullah bin al Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.[2] Dari silsilah tersebut, jelaslah bahwa Imam Syafi’i masih keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

Beliau dilahirkan di Gaza pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. Ibunya keturunan Yaman dari kabilah Azdi dan memiliki jasa yang besar dalam mendidik beliau. Sedangkan ayahnya meninggal dunia ketika beliau masih dalam buaian. Kemudian ibunya membawa beliau ke Makkah agar dapat hidup bersama orang-orang Quraisy, bertemu dengan nasabnya yang tinggi.[3]

Sejarah telah mencatat bahwa ada dua kejadian penting sekitar kelahiran Imam Syafi’i, yaitu:[4]

Ø  Sewaktu Imam Syafi’i dalam kandungan, ibunya bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar dari perutnys dan terus naik membumbung tinggi, kemudian bintang itu pecah dan berserakan menerangi daerah-daerah sekelilingnya. Ahli mimpi menta’birkan bahwa ia akan melahirkan seorang putera yang ilmunya akan meliputi seluruh jagad.

Ø  Pada hari Imam Syafi’i lahir, ada dua orang ulama’ besar yang meninggal dunia, seorang di Baghdad yaitu Imam Abu Hanifah dan di Mekkah yaitu Imam Ibnu Juraij al Makky. Dengan peristiwa tersebut, orang-orang yang ahli dalam ilmu firasat meramalkan bahwa ini suatu pertanda bahwa anak yang lahir ini akan menggantikan yang meninggal dalam kemahiran dalam urusan peng

Sumber :

https://finbarroreilly.com/