Hutan Rakyat

Hutan Rakyat

Hutan rakyat sudah lama berkembang di kalangan masyarakat Indonesia dan banyak berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi dan ekologi pemilik maupun masyarakat sekitar yang dikelola secara tradisional. Perkembangan hutan wakyat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial ekonomi masyarakat di pedesaan melalui penyediaan bahan baku kayu yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat seluas 2,7 juta ha dan potensi produksi mencapai 16 juta m3 di Jawa.

Dimana pengembangan hutan rakyat tidak terlepas dari pengaruh masyarakat yang menggarap hutan rakyat dan penyuluh kehutanan yang memberikan informasi terkini mengenai pengelolaan hutan rakyat. Pengelolaan yang dilakukan masyarakat secara tradisionall yang mengandakan pengalaman (Azami, 2018).

Sebelum melakukan penyuluhan kepada masyarakat, penyuluh kehutanan diberikan informasi dan pelatihan untuk membentuk persepsi yang sama terkait hutan rakyat sehingga antar penyuluh kehutanan dapat menyampaikan informasi yang tidak kontradiktif. Penyuluh kehutanan mempunyai tujuan untuk melakukan perubahan sasarannya, tetapi sebelum mengubah perilaku sasaran, penyuluh kehutanan juga perlu mengetahui persepsi sasaran terhadap materi utama penyuluhan (Azami, 2018).

Prinsip Dasar Menyusun Strategi Penyuluhan Kehutanan

1. Belajar dari Masyarakat

Hakekat kegiatan Penyuluhan Kehutanan menyebarluaskan adalah informasi yang berkaitan dengan upaya peningkatan produktivitas, pendapatan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat dari pemanfaatan hutan secara lestari. Hal ini dapat dipahami oleh masyarakat apabila terjadi komunikasi yang baik, kesaling percayaan antara masyarakat dan penyuluh, serta masyarakat menyadari bahwa mereka merupakan salah satu dari trilogi pemanfaatan hutan yaitu: masyarakat, penyuluh/aparat dan hutan (Pandoyo et al, 2020).

Pemanfaatan oleh masyarakat banyak menggunakan kearifan tradisional dan cara-cara yang memang sudan terpercaya dan teruji mampu menyelasaikan permasalahan dalam pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat. Cara-cara dan kearifan tradisional tersebut dapat dijadikan pelajaran berharga oleh penyuluh. Penyuluh belajar dari masyarakat dan tidak melalui mengajari masyarakat (Pandoyo et al, 2020).

2. Orang Luar (Peneliti, Penyuluh, Petugas)

Sikap rendah hati, mau belajar dari masyarakat dan menempatkan masyarakat sebagai nara sumber adalah langkah bijak dan arif yang selayaknya dianut oleh penyuluh. Penyuluh hanya bertindak sebagai fasilitator dengan memberikan arahan dan pandangan yang demokratis serta disepakati oleh semua pihak (Pandoyo et al, 2020).

3. Saling Belajar dan Berbagi Pengalaman

Walaupun ada pengakuan atas pengalaman dan pengatahuan tradisional masyarakat bukan berati masyarakat selamanya benar dan dibiarkan tidak berubah. Demikian juga, pengetahuan modern yang diperkenalkan oleh orang luar tidak selalu dapat memecahkan masalah mereka. Oleh karena itu antara pengalaman dan pengetahuan orang luar saling melengkapi dan sama pentingnya (Pandoyo et al, 2020).

4. Informal 

Kegiatan Penyuluhan Kehuatanan adalah pendidikan non formal yang tidak terikat pada absen, kurukulum dan tempat, maka kegiatan Penyuluhan Kehutanan dapat dilakukan di mana saja, sifatnya luwes, terbuka dan tidakmemaksa.

Situasi seperti ini akan menimbulkan hubungan yang akrab sehingga orang luar (penyuluh) akan berproses masuk dan diterima sebagai anggota kelompok diskusi. Prisip utama yang harus dipegang oleh Penyuluhan Kehutanan menyikapi sistem informal ini adalah: pertemuan yang dilakukan harus tepat waktunya dan tepat tempatnya (Pandoyo et al, 2020).

Sumber: https://andyouandi.net/konten-porno-tidak-bisa-diblokir-total/