Pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme pada Indonesia

Pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme pada Indonesia

  1. Pengaruh dalam bidang Sosial

Dalam bidang sosial, pemerintah kolonial membentuk Indische Staatsregeling (IS) yang mengatur adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat indonesia. Penduduk indonesia di bedakan menjadi beberapa golongan, yaitu sebagai berikut.

Golongan Eropa, merupakan golongan atas walaupun jumlahnya sedikit, namun mendominasi berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat indonesia. Golongan eropa , seperti orang-orang belanda, portugis, dan spanyol.

Golongan indo dan timur asing, merupakan orang Indo (peranakan) merupakan hasil pencampuran antara peranakan antara orang-orang eropa dengan pribumi. Sementara timur asing merupakan orang-orang asia yang berdagang di Indonesia, seperti orang cina dan orang arab.

Golongan pribumi (Bumiputera), merupakan orang-orang asli Indonesia (pribumi), seperti tukang kayu, buruh tani,dan pekerja rendahan lainnya.

2. Pengaruh dalam bidang Pendidikan

       Diskriminasi juga dilakukan di bidang pendidikan. Pemerintah kolonial sengaja menerapkan prinsip dualisme dalam sistem pendidikan di tanah jajahan. Warisan pendidikan kolonial yang masih digunakan di Indonesia, antara lain pembagian jenjang pendidikan, dan pengenalan macam-macam ilmu pengetahuan (ilmu alam, ilmu bumi, astronomi, filsafat dan hukum).

  1. Pengaruh dalam bidang Ekonomi

Pemerintah kolonial belanda sengaja mewariskan sistem perekonomian dengan menggunakan uang, yang sebelumnya belum digunakan masyarakat Indonesia. Sistem tersebut semakin memacu masyarakat untuk bersaing menciptakan produk-produk baru. Meskipun pada kenyataanya produk-produk tersebut kalah bersaing dengan produk impor.

  1. Pengaruh dalam bidang Budaya

Pengaruh praktek kolonialisme di Indonesia juga terlihat dalam bidang kebudayaan. hal ini dapat kita lihat dalam seni bangunan, seni musik, seni sastra, seni tari dan adat istiadat.

  1. Pengaruh dalam bidang Politik/Pemerintahan

Belanda selalu menggunakan politik devide at impera (politik adu domba), yaitu dengan menghasut dan mencampuri urusan-urusan internal kerajaan-kerajaan sehingga kerajaan tersebut menjadi terpecah belah dan dengan mudah dikuasai belanda. Dalam bidang hukum dan pemerintahan, belanda meninggalkan warisan yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia. contohnya, burgerlijk wetboek (kitab undang-undang hukum perdata).