Pengertian Istihsan

Pengertian Istihsan

Pengertian Istihsan

Pengertian Istihsan

Di dalam bahasa Arab

al-Istihsandiartikan dengan menganggap sesuatu yang baik atau mengikuti sesuatu yang baik.

Adapun defenisi al-Istihsan dikalangan para ahli ushul berbeda-beda sesuai dengan tinjauannya masing-masingdan kemampuannya menyimpulkan pengertian al-Istihsan di dalam kata-kata.

Diantaranya al-Bazdawiy memberi definisi al-Istihsan adalah meninggalkan keharusan meninggalkan qiyas dan berpindah kepada qiyas yang lebih kuat atau men-takhshish qiyas dengan dalil yang lebih kuat dari qiyas tadi.Adapun menurut Al-Nasafiya pengertian al-Istihsan adalah meninggalkan suatu qiyas menuju kepada qiyas yang lebih kuat atau al-Istihsan adalah dalil yang berlawanan dengan qiyas jaliy.

Menurut Abdul Hasan al-Karkhiy pengertian al-Istihsan adalah perpindahan si mujahid didalam memberikan hukum dalam suatu masalah seperti yang sudah diberikan hukum padanya, kepada hukum yang berbeda dengan hukum yang sudah ditentukan tersebut karena ada segi yang lebih kuat yang menyebabkan perpindahan dari hukum yang pertama.Defenisi-defenisi tersebut adalah defenisi dari ulama-ulama Madzhab Hanafiya.

Sedangkan ulama-ulama dari Madzhab Malikiya memberikan pengertian al-Istihsan menurut Ibn Arabiy adalah meninggalkan ketetapan dalil dengan cara mengecualikan dan meringankan karena ada pertentangan yang menentangnya di dalam sebagian ketetapannya. Menurut Al-Syathibiy al-Istihsan adalah menurut pendapatku dan menurut pendapat ulama Hanafiyah adalah beramal dengan dalil yang lebih kuat diantara dua dalil. Menurut Ibn Rusyd al-Istihsan adalah meninggalkan suatu qiyas yang membawakan pada yang berlebih-lebihan atau melampaui batas di dalam hukum, dan berpindah kepada hukum lain yang merupakan kekecualian.

Menurut Ulama Hanbaliyah memberikan defenisi yang paling baik al-Istihsan adalah perpindahan dari suatu hukum tentang suatu kasus Karena ada dalil syara’ yang khusus.

Dari defenisi-defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa mereka sepakat untuk menerima dua hal:

  1. Ahli ushul fikih dari Madzhab Hanafiyah dan Hanbaliyah, sekalipun berbeda didalam memformulasikan kata-katanya, namun merek sepakat bahwa Istihsan adalah perpindahan dari suatu hukum kepada hukum lainnya dalam sebagian kasus atau meninggalkan suatu hukum karena adanya hukum yang lebih kuat atau pengecualian yang bersifat jus’iyyah dari hukum yangKulliyahatau menghususkan sesuatu hukum yang umum dengan hukum yang khusus. Mereka sepakat pula bahwa perpindahan ini harus ada sandarannya yang berupa dalil syara’ yang berupa Nash atau Ma’qulnya Nash atau Mashlahat atau ‘Urf yang shahih. Dalil-dalil sandaran ini disebut Wajh al-istihsan atau sanad al-istihsan.[2]
  2. Perpindahan ini kadang-kadang dari hukum yang dihasilkan dengan menggunakan umumnya Nash dan kadang-kadang dari hukum yang dihasilkan dengan menggunakan qiyas dan kadang-kadang dari hukum yang merupakan penerapan kaidah-kaidah yang Kulliyah. Oleh karena itu barangkali, dapat disimpulkan bahwa istihsan adalah perpindahan dari suatu hukum yang ditetapkan oleh dalil syara’ dalam suatu kasus tertentu kepada hukum lain, karena adanya dalil syara’ yang mengharuskan perpindahan sesuai dengan jiwa syari’at Islam.

Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/