Pendistribusian Zakat Fitrah

Pendistribusian Zakat Fitrah

Pendistribusian Zakat Fitrah

Pendistribusian Zakat Fitrah
Pendistribusian Zakat Fitrah

Mereka yang mengikuti pendapat bahwa uang tidak bisa menggantikan bahan makanan pokok untuk membayar zakat fitrah ataupun yang mengikuti pendapat bahwa uang boleh digunakan untuk membayar zakat fitrah sama-sama dapat menggunakan uang untuk membayar zakat. Yang pertama menitipkan sejumlah uang kepada amil zakat agar dibelikan bahan makanan pokok untuk membayar zakat. Yang kedua langsung membayar dengan uang. Perbedaan keduanya terletak pada masalah distribusi. Pilihan pertama mengharuskan zakat fitrah didistribusikan dalam bentuk bahan makanan pokok, sementara yang kedua boleh dengan uang atau (tentu saja) yang lainnya.

Pilihan mendistribusikan zakat dalam bentuk bahan makanan pokok, seperti beras, tentu sangat cocok diterapkan di daerah pedesaan. Sebagaimana diuraikan di atas, masyarakat pedesaan relatif lebih “familiar” dengan beras dan padi daripada uang. Namun bila beras didistribusikan kepada masyarakat perkotaan, ada kecenderungan menjual kembali beras tersebut untuk mendapatkan uang guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan lain. Sayangnya beras zakat fitrah itu sering dihargai menurut beras dengan kualitas paling rendah. Lalu bila diberikan dalam bentuk uang akankah menjadi lebih baik? Belum tentu.  Pemberian barang-barang kebutuhan lebaran seperti gula, minyak goreng, sirup, kue-kue lebaran, atau baju kadang lebih berkesan daripada uang. Di sinilah peran amil zakat diperlukan: memungut dengan cara yang tepat dan mendistribusikannya dengan tepat sasaran dan kebutuhan.

13 Ramadlan 1431

Catatan:

  1. Bawon adalah bagi hasil sebagai upah atas pekerjaan tertentu. Belakangan, nilai bawon tergantung dari tingkat kesulitan si pemanen. Mekanisasi pertanian telah memperkecil nilai bawon dan mungkin kelak akan menghapusnya…bersama nilai-nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya, lalu menggantikannya dengan uang.
  2. Oleh karena itu, aturan zakat mengatur sebagai berikut: zakat panen padi dibayar dengan sekian bagian dari padi yang dipanen, zakat unta dibayar dengan unta, dan seterusnya.
  3. Mengacu catatan Hitti (2002), perdagangan pada jaman Nabi merupakan gabungan antara barter (untuk transaksi kecil) dan penggunaan mata uang Romawi dan Persia (dinar dan dirham). Lihat: Philip K. Hitti, History of The Arabs, 2002.
  4. Kurs dinar dan dirham tanggal 20 Agustus 2010. Lihat:

Baca Juga :