Mengapa Membayar dengan Bahan Makanan Pokok

Mengapa Membayar dengan Bahan Makanan Pokok

Mengapa Membayar dengan Bahan Makanan Pokok

Mengapa Membayar dengan Bahan Makanan Pokok
Mengapa Membayar dengan Bahan Makanan Pokok

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita menengok cara  orang-orang desa bersikap terhadap kebutuhan pokok. Dalam hal menabung, misalnya, pilihan pertama mereka adalah menabung bahan makanan pokok seperti padi, beras, atau jagung, bukan uang. Bila uang diperlukan, mereka membutuhkan waktu untuk mengambil sebagian tabungan tersebut lalu menjualnya dengan nilai tukar yang tak selalu menguntungkan. Dalam transaksi tertentu, mereka juga memilih tidak memakai uang. Untuk mengupah pemanen padi, mereka memberikan bawon sejumlah seperdelapan sampai seperenam dari padi yang dipanen oleh si pemanen tadi.1 Singkatnya, boleh dikatakan kalau mereka lebih siap membayar segala sesuatu dengan kebutuhan pokok atau barang lainnya, dan bukan dengan uang.

Suasana seperti itulah yang terjadi pada jaman Nabi.2 Tentu ada kurang lebihnya, tidak sama persis. Jadi, penduduk Madinah dari segala strata pada saat itu lebih siap membayar dan menerima zakat fitrah dengan bahan makanan pokok, bukan dengan mata uang Romawi atau Persia yang dikenal saat itu: dinar dan dirham. Apalagi, seperti biasanya, Kanjeng Nabi memberikan kemudahan dan kebebasan untuk membayar dengan apa saja yang dimiliki seseorang pada saat menjelang Idul Fitri. Kalau punya kurma, boleh membayar dengan kurma. Kalau punya gandum, boleh dengan gandum. Kalau punya selain kurma dan gandum, boleh dengan yang lain. Kalau tak punya apa-apa, berarti wajib diberi zakat fitrah. Yang penting zakat fitrah dibayarkan sebelum pelaksanaan salat I’d agar segenap masyarakat bisa bergembira sejenak pada hari raya.

Pilihan untuk tidak membayar zakat fitrah dengan uang boleh jadi karena nilai uang pada saat itu, yaitu dinar dan dirham, terlalu besar untuk membayar zakat fitrah yang relatif kecil.3 Sebagaimana diketahui, satu dinar adalah 4,25 gram emas 22 karat atau saat ini senilai dengan Rp.1.519.000, sementara satu dirham adalah perak murni 2,975 gram atau saat ini setara dengan Rp.33.500.4 Pada jaman Nabi, belum ada mata uang yang lebih kecil dari dinar atau dirham. Pecahan uang yang lebih kecil, yaitu daniq yang bernilai seperenam dirham, baru dibuat pada masa kepemimpinan Sayyidina Umar ibn ‘l-Khattab.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/