Fitrah dengan Selain Bahan Makanan Pokok

Fitrah dengan Selain Bahan Makanan Pokok

Fitrah dengan Selain Bahan Makanan Pokok

Fitrah dengan Selain Bahan Makanan Pokok
Fitrah dengan Selain Bahan Makanan Pokok

Inilah sabda Nabi yang menjelaskan zakat fitrah, diriwayatkan oleh paling tidak enam imam hadits yang paling otoritatif dalam Islam :

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata : “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari orang-orang Islam. Dan beliau memerintahkannya supaya ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju (tempat) shalat.

Dari hadits di atas dan beberapa hadits lain yang senada maka lahirlah berbagai pengaturan tentang zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat pribadi yang wajib dibayarkan oleh dan/atau atas nama setiap muslim laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak, kaya atau miskin, yang masih hidup pada malam hari raya Idul Fitri dan mempunyai  kelebihan bahan pemenuhan kebutuhan pokok untuk sehari semalam. Dengan demikian, seseorang yang memiliki tanggungan keluarga juga wajib membayarkan zakat fitrah untuk masing-masing pribadi yang menjadi tanggungannya: anak, istri/suami, pembantu, atau orang tua.

Pembayaran zakat fitrah dapat dimulai dari awal Ramadlan sampai saat pelaksanaan shalat Idul Fitri berupa satu sha’ kurma atau gandum. Dengan atau tanpa dukungan sabda Nabi, belakangan daftar jenis bahan untuk pembayaran zakat fitrah bertambah panjang seiring dengan meluasnya daerah Islam: kismis, keju, bur (sejenis biji-bijian), beras, jagung, dan seterusnya. Batasan yang kemudian ditetapkan oleh mayoritas ulama adalah bahwa barang yang dipergunakan untuk membayar zakat fitrah adalah bahan makanan pokok yang lazim dikonsumsi dalam suatu wilayah. Pembayaran dengan uang tentu tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai qiyas yang kebablasan. Bukankah Nabi tidak pernah menyuruh atau mempraktikkan pembayaran zakat fitrah dengan menggunakan uang meskipun pada saat itu sudah ada dinar dan dirham sebagai alat pembayaran.

Namun tentu ada pendapat alternatif. Berbeda dengan mayoritas, mazhab Hanafi  membolehkan membayar dan mendistribusikan zakat fitrah dengan uang. Menurut pendapat ini, karena sifatnya yang fleksibel dalam memenuhi kebutuhan mustahiq di hari raya, uang terkadang lebih bermanfaat daripada bahan makanan pokok.

Untuk membayar zakat, apakah memang bahan makanan pokok lebih baik daripada uang? Atau sebaliknya? Menurut hemat penulis jawabannya tergantung situasi dan kondisi. Oleh karena itulah pilihan cara pembayaran dan distribusi zakat fitrah harus dibuka lebar. Pendapat Hanafi tak haram untuk diikuti.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/