63,07% Guru Intoleran kepada Agama Lain

63,07% Guru Intoleran kepada Agama Lain

63,07% Guru Intoleran kepada Agama Lain

63,07% Guru Intoleran kepada Agama Lain
63,07% Guru Intoleran kepada Agama Lain

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali meluncurkan hasil survei berjudul Pelita yang Meredup: Potret Keberagamaan Guru Indonesia. Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Saiful Umam, mengatakan, survei itu dilakukan kepada 2.237 guru muslim dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA yang mengajar berbagai mata pelajaran di 34 provinsi di Indonesia.

Alat ukur yang digunakan adalah Implict Association Test (IAT) dan kuesioner yang menekankan pada persoalan toleransi beragama di Indonesia, mulai dari kebebasan beragama, hingga hubungan antarkelompok beda agama. Hasilnya, opini intoleransi guru terhadap pemeluk agama lain mencapai 63,07%.

“Survei kami menggunakan alat ukur IAT dan menunjukkan bahwa 63,07% guru memiliki opini intoleransi terhadap agama lain. Sedangkan 36,92% guru toleran terhadap agama lain,” kata Saiful dalam Survei Nasional tentang Keberagamaan Guru Sekolah/Madrasah di Indonesia yang digelar oleh PPIM UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (16/10).

Ia menambahkan, untuk penelitian yang menggunakan kuesioner self report untuk

melihat intoleransi dan radikalisme secara implisit, hasilnya sebesar 56,90% guru memiliki opini intoleran kepada agama lain dan opini toleran sebesar 41,09%. Survei yang dilakukan 6 Agustus-6 September 2018 ini juga dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada responden yang sama.

Dijelaskan Saiful, hasil opini intoleransi pemeluk agama lain ini diukur dengan enam pertanyaan. Di antaranya, apakah nonmuslim boleh mendirikan rumah ibadah di lingkungan rumah mereka?

Hasil survei tersebut menghasilkan data bahwa, sebanyak 56% guru muslim tidak

setuju jika nonmuslim mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka. Sementara 21% guru muslim tidak setuju tetangga yang berbeda agama mengadakan acara keagamaan di rumah mereka.

Saiful menambahkan, opini intoleran lainnya diukur dengan menggunakan enam pertanyaan tentang radikalisme yang sudah diuji validalitas konstruksinya. Misalnya, apakah mereka menganjurkan orang lain agar ikut berperang mewujudkan negara Islam dan ikut berjihad ke Filipina Selatan, Suriah, atau Irak dalam memperjuangkan agama Islam?

Hasilnya, terdapat 33% guru yang setuju untuk menganjurkan orang lain iku

t berperang mewujudkan negara Islam, dan 29% guru setuju untuk ikut berjihad ke Filipina Selatan, Suriah, dan Irak untuk memperjuangkan berdirinya negara Islam.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/