Dua Mahasiswa Ini Raih Doktor di Usia 27 Tahun

Dua Mahasiswa Ini Raih Doktor di Usia 27 Tahun

Dua Mahasiswa Ini Raih Doktor di Usia 27 Tahun

Dua Mahasiswa Ini Raih Doktor di Usia 27 Tahun
Dua Mahasiswa Ini Raih Doktor di Usia 27 Tahun

Perjuangan Wahyuniarsih Sutrisno dan Asdam Tambusay meraih gelar doktor akhirnya tercapai. Dua mahasiswa program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) itu tercacat sebagai doktor termuda dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Yakni, 27 tahun.

Sabtu ini (23/9) Wahyu dan Asdam mengikuti wisuda ke-116 di kampusnya. Keduanya merupakan mahasiswa angkatan pertama untuk program PMDSU di ITS. PMDSU adalah program khusus bagi lulusan S-1 untuk bisa langsung melanjutkan S-3 tanpa melalui S-2.

Dari sembilan orang yang terdaftar dalam program tersebut, hanya Wahyu dan Asdam yang berhasil menyelesaikannya dengan cepat. Bahkan, keduanya meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi. Asdam memperoleh IPK 3,97. Adapun Wahyu lebih tinggi lagi. IPK-nya sempurna, yakni 4,00. ’’Alhamdulillah kami lulus tepat empat tahun,’’ ujar Asdam di ruang Teleconference Rektorat ITS.

Alumnus S-1 Teknik Sipil Universitas Hassanuddin (Unhas) Makassar itu menyatakan tidak mudah untuk bisa menembus beasiswa PMDSU. Mereka harus melalui persyaratan administrasi. Antara lain, IPK minimal 3,50; TOEFL 500; menyelesaikan 144 SKS; dan lolos tes kemampuan akademik (TPA). Setelah itu, mereka harus menjalani tes wawancara dengan promotor untuk menjabarkan rencana disertasinya.

Jika penjabaran diterima, mereka masih harus melalui setahun penyelesaian program kualifikasi nilai S-2. Yang berhasil mencapai target bisa melanjutkan ke S-3. Jika gagal, otomatis beasiswa PMDSU dicabut dan masuk S-2 reguler.

Asdam menjelaskan, dirinya awalnya mengikuti PMDSU agar bisa mencapai gelar doktor. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di Unhas pada 2012, Asdam sempat bekerja di Jakarta. Setahun kemudian, dia menjajal PMDSU. ’’Saya dapat info dari dosen saya di Unhas, disuruh coba,’’ ungkapnya.

Gelar doktor memang menjadi motivasi terbesarnya. Sebab, di keluarganya belum ada yang mendapatkan gelar tersebut. Orang tuanya merupakan pensiunan PNS. Bungsu dari empat bersaudara itu menyalip sang kakak yang tengah menyelesaikan program magister.

Dalam menempuh pendidikan S-3, topik disertasi yang diangkat Asdam ialah penggunaan material engineered cementitious composite (ECC) dari mikrostruktur pada bangunan tahan gempa.

Kekuatan beton yang dihasilkan dari material tersebut sama dengan kekuatan beton sesuai standar minimum bangunan, yakni 20 Mpa. ’’Bedanya, kekuatan tarik yang dihasilkan dengan ECC mencapai 500 kali lebih besar dan meminimalkan lebar retak bangunan lebih kecil dari 0,1 mm,’’ jelas pria yang menargetkan bisa meraih profesor di usia muda itu.

Penelitian yang membutuhkan riset hingga ke Edinburgh, Inggris, tersebut terinspirasi wilayah Indonesia yang termasuk rawan gempa. Harapannya, material ECC mampu mengurangi besarnya kerusakan bangunan ketika peristiwa itu terjadi.

Setelah lulus, pria kelahiran 18 Agustus 1990 tersebut berencana mengambil program post-doctoral. Selain itu, dia ingin melanjutkan penelitiannya. ’’Setelah itu mungkin jadi dosen,’’ ungkapnya, lantas tersipu.

Sementara itu, Wahyuniarsih mengusung tema disertasi tentang propagarsi retak

akibat korosi pada beton bertulang. Penelitian itu berguna untuk memprediksi lebih awal kapan korosi pertama terjadi pada sebuah bangunan. ’’Di Indonesia saat ini gencar pembangunan infrastruktur maritim. Kalau tidak bisa memprediksi, bisa-bisa lima tahun mendatang kita keluar biaya besar untuk perbaikan,’’ papar alumnus S-1 Teknik Sipil ITS itu.

Wahyu menjelaskan, proses korosi terjadi ketika air dan udara masuk ke pori-pori bangunan hingga besi mengalami korosi. Jika korosi menyebar ke bagian besi lainnya, akan membuat bangunan tersebut hanya ditahan beton. ’’Jika hanya ditahan beton dan kondisi besi sudah retak, bangunan tersebut akan kehilangan tulang penyangga. Akibat terburuk adalah bangunan hancur,’’ papar perempuan asal Surabaya tersebut.

Wahyu mengatakan, pengerjaan disertasinya cukup rumit karena harus membahas tiga topik besar seperti korosi, rumus, dan teknik sipil. Karena itu, dia harus bekerja sama dengan koleganya dari program S-2 teknik sipil dan melakukan riset hingga ke Kumamoto, Jepang.

Wahyu tidak berhenti bersyukur lantaran bisa menyelesaikan program doktoralnya.

Dia menuturkan awal mula mengikuti tes PMDSU secara gambling. Meski demikian, sulung dua bersaudara itu tetap berupaya menampilkan yang terbaik. ’’Saya memang bercita-cita jadi dosen. Saat ada tawaran tes PMDSU dari dosen, saya tidak mau melewatkannya. Saya pikir, kesempatan tidak datang dua kali,’’ paparnya.

Program PMDSU di ITS berlangsung mulai 2013. Program tersebut dibuka dua tahun

sekali. Saat ini baru ada tiga departemen di ITS yang membuka program itu. Yakni, teknik sipil, teknik kimia, dan teknik elektro. Dari tiga departemen tersebut, baru teknik sipil yang berhasil meluluskan mahasiswa doktoral.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/1/