Kemendikbud : Penalaran Sudah Dari Dulu, Jadi Tidak Tiba-Tiba

Kemendikbud Penalaran Sudah Dari Dulu, Jadi Tidak Tiba-Tiba

Kemendikbud : Penalaran Sudah Dari Dulu, Jadi Tidak Tiba-Tiba

Kemendikbud Penalaran Sudah Dari Dulu, Jadi Tidak Tiba-Tiba
Kemendikbud Penalaran Sudah Dari Dulu, Jadi Tidak Tiba-Tiba

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menerapkan High Order Thinking Skill (HOTS) di Ujian Nasional mulai tahun ini. Sehingga, tingkat kesulitan soal dinaikkan hingga 10 persen.

Bukan malah menuai pujian, usaha Kemendikbud malah mendapat kritikan pedas dari semua pihak termasuk peserta ujian. Menanggapi hal ini, Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno pun menjelaskan mengenai HOTS.

“HOTS itu bahasa indonesianya penalaran ya, bolehlah dikasih kata tingkat tinggi. Tetapi, esensi pendidikan itu ya memang mengembangkan dan menumbuhkan daya nalar,” ujar Totok saat ditemui JawaPos.com di kantor Kemendikbud, Jakarta, (2/5).

Menurutnya, jika selama ini guru hanya menyampaikan Informasi yang ditelan mentah-mentah oleh murid. Sehingga, murid diuji dari informasi tadi dan mengisi sesuai yang disampaikan guru itu tidak mendorong esensi pendidikan yang sesungguhnya.

“Oleh karena itu, secara bertahap dalam UN ini ditambahkan soal-soal yang mendorong anak belajar mengembangkan daya nalarnya. HOTS bukan barang baru banget, sejak Ki Hadjar Dewantara juga sudah ada,” jelas Totok.

Dirinya menekankan anak perlu dikembangkan  intelektualitasnya sehingga tidak sekedar menerima pengetahuan yang didapat. Tetapi bisa memaknai informasi, menganalisa bahkan menyaring informasi tersebut.

“Memaknai informasi itu dimanfaatkan untuk memecahkan masalah dalam persoalan kehidupannya. Yang nalarnya tinggi menerima informasi nggak nelan informasi mentah-mentah,” tegasnya.

Dirinya memaklumi jika istilah HOTS baru, namun awal proses pendidikan memang

sudah mengajarkan proses penalaran. Jadi, jika masih ada sekolah dan guru yang menyuapi siswa dengan informasi itu yang harus diubah.

“Semoga UN bisa mendorong proses pembelajaran dengan penalaran. Yang seharusnya dari dulu kurikulum 1994-2016 seharusnya sudah bernalar, jadi tidak tiba-tiba,” kata Kalitbang ini.

“Hanya saja istilah hots yang baru kedengaran saja. Makanya saya lebih senang menggunakan daya nalar,” lanjutnya.

Dalam penerapan Hots, Totok memang melihat salah salah satu kuncinya ada di pembenahan guru. Karena peningkatan proses pembelajaran untuk bisa menjamin itu butuh kompetensi guru yang baik.

“Makanya mudah-mudahan UN ini bisa betul-betul menjadi cermin jujur yang

menggambarkan apa adanya, dan masing-masing pihak menanggapi dengan kepala dinginlah, tidak usah emosi dan marah,” harapnya.

Totok menyampaikan untuk perbaikan ke depan, Kemendikbud akan mengeluarkan diagonis setiap sekolah seperti apa saja hal yang kurang. Dirinya akan memetakan semua hal kekurangan untuk dibenahi satu persatu.

“Bertahaplah, karena ujian-ujian seperti juga butuh PISA penalaran. Kita harus

menyiapkan, kalau siswa bilang nggak bisa ya sama-sama belajar dan diajar. Kita akan benahi ke depan kekurangannya,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://yaplog.jp/ojelhtcmandiri/archive/4