Konsep pendidikan Driyarkara relevan tapi tidak aplikatif

Konsep pendidikan Driyarkara relevan tapi tidak aplikatif

Konsep pendidikan Driyarkara relevan tapi tidak aplikatif

Pendidikan di Indonesia saat ini tengah mengalami masa transisi di mana berbagai konsep dijabarkan guna membawa pendidikan Indonesia jadi lebih baik lagi. Salah satu konsep pendidikan yang dikatakan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini ialah pendidikan
menurut Driyarkara SJ.

Sayangnya, konsep pendidikan menurut tokoh pendidik zaman 1950 hingga 1960-an tersebut tidak mudah diaplikasikan. “Konsep pendidikan Driyarkara baru gagasan awal sehingga masih terlalu luas. Hal ini maklum saja karena konsep pendidikan beliau bersifat filosofis,” ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Prof Dr J Sudarminto SJ, Kamis (12/12/2013).

Dalam seminar peringatan Dies Natalis Universitas Sanata Dharma ke-58 bertajuk Konsep Pendidikan Driyarkara di kampus setempat, Sudarminto menuturkan, konsep pendidikan Driyarkara masih memerlukan penjabaran lebih lanjut oleh para teoritis dan praktisi pendidikan untuk dapat dioperasionalisasikan dalam praktik pendidikan di Indonesia.

Hal ini dikarenakan, konsep yang ada masih berada pada tataran konseptual, belum menyentuh hal-hal empirik-operasional. Persoalan konkret mengenai bagaimana pendidikan karakter dilakukan, bagaimana kurikulum sebaiknya ditata atau bagaimana pengelolaan proses
pembelajaran yang baik justru tidak disinggung dalam konsep tersebut,” jelasnya.

Meski diakui Sudarminto jika persoalan pendidikan saat ini lebih kompleks dibanding 50-an tahun yang lalu saat konsep dibuat, sudut pandang pedagogos memang tidak digunakan sehingga pendidikan secara spesifik justru tidak tersentuh.

“Terlepas dari keterbatasannya, konsep pendidikan Driyarkara masih memiliki relevansi sampai sekarang. Seperti konsepnya yang terkenal tentang hakekat pendidikan sebagai prosesn pemanusiaan manusia muda menjadi dewasa susila. Konsep ini mengartikan pendidikan merupakan
proses yang berlangsung seumur hidup,” ungkapnya.

Dijelaskan Sudarminto, pendidikan bagi peserta didik menurut Driyarkara justru mewajibkan peserta didik berpartisipasi aktif dalam proses pendidikan dan mampu berinteraksi dengan lingkungan alam serta sosial disekitarnya. Sedangkan bagi pendidik atau guru, perlunya
pendidikan guru secara khusus sebagai pendidik dan bukan hanya pengajar suatu bidang studi.

“Penguasaan ilmu bagi guru tidak cukup. Guru harus tahu fungsi edukatif bidang studi yang ia ajarkan, bisa mengajar dengan menarik dan efektif serta bersifat mendidik atau mengembangkan pribadi peserta didik sebagai manusia. Guru juga harus mampu membawa diri dan menjadi
panutan peserta didiknya,” imbuhnya.

Kesesuaian konsep pendidikan Driyarkara dengan kondisi Indonesia saat ini juga

terlihat pada ajarannya yang menempatkan kegiatan pendidikan dalam perspektif perubahan sosial masyarakat. Dikatakan Sudarminto, tantangan pendidikan muncul akibat perubahan zaman. Hal ini membuat
konsep pendidikan yang berlaku perlu membekali peserta didik untuk selalu tanggap terhadap perubahan sosial.

Seperti saat ini, tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan kita ialah terjadinya revolusi teknologi informasi dan komunikasi serta kuatnya pengaruh budaya pasar yang dibawa oleh kapitalisme global dalam dunia pendidikan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Pendidikan Sejarah USD Yogyakarta Anton

Haryono menuturkan, pendidikan menurut Driyarkara merupakan fenomena fundamental, di mana di tiap kehidupan manusia pasti ada proses pendidikan. Pendidikan tidak bisa lepas dari persoalan
komunikasi dan integrasi proses humanisasi.

“Karena berada dalam kehidupan manusia, pendidikan memiliki tantangan terberat

terkait peralihan sosio-budaya yang terjadi dalam kehidupan manusia, di mana nilai-nilai lama telah disangsikan namun nilai-nilai baru belum ditemukan,” ujarnya.

Semua pihak berperan majukan pendidikan

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/pengertian-lembaga-agama-fungsi-tujuan-dan-macamnya/