Sejarah Perkembangan Agama (Animisme, Dinamisme, Politeisme, Monoisme)

Sejarah Perkembangan Agama (Animisme, Dinamisme, Politeisme, Monoisme)

 

Sejarah Perkembangan Agama (Animisme, Dinamisme, Politeisme, Monoisme)– Jika agama dilihat dari asa lusul agama pasti mengacu pada kepercayaan manusia yang mengarah pada teori Darwin dan August Comte yakni tentang tiga tingkatan perkembangan (teologis, metafisik dan positifistik). Dalam teori ini kepercayaan mmanusia mula-mula berkembang dari kpercayaan terhadap Tuhan banyak kepada yang satu, dari politeisme kemonoteisme dan dari syirik ke tauhid. Ada tiga fase kepercayaan atau keyakinan di Indonesia yang datang dan menyebar ke seluruh daerah yang beragam dan kaya akan budaya yang berkembang sampai sekarang. Dimana ada fase politeisme, henoteisme, danmonoteisme. Ketiga fase ini merupakan opini umum di kalangan para ahli ilmu perbandingan agama, berarti tidak seluruhnya. Dari monoteisme sebenarnya masih terdapat unsure dualism, yakni menggandrungi satu ekuatan, tetapi tidak mengabaikan kekuatan lain.

Sejarah Perkembangan Agama (Animisme, Dinamisme, Politeisme, Monoisme)

Banyak agama besar yang pada akhirnya berkembang di Indonesia dan dinamakan agama monoteisme misalnya Agama Islam, Kristen atau Yesus dan Kong Hucu. Semua agama yang ada di Indonesia berawal dari perjalanan satu keyakinan kepercayaan dari para nenek moyang dan mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan berfikir para manusia yang berubah dan disinilah banyak argumen dan penafsiran pendapat tentang agama yang beranggapan berasal dari Tuhan dan buatan manusia yang berupa kepercayaan yang dikaitkandengankebudayaan yang beragamdanmasihkentalsampaisekarang yang menimbulkan adanya tradisi, adat istiadat di setiap masyarakat. Keyakinan-keyakinan tersebut dibagi menjadi :

Animisme

Animisme adalah kelanjutan perubahan secara perlahan (evolusi) dari kepercayaan kepada roh nenek moyang. Kepercayaan ini berasal dari perkembangan berfikir manusia purba dalam memahami sebab-musabab gejala-gejala alam yang terjadi di sekitarnya seiring dengan perkembangan daya berfikir manusia purba dalam memikirkan asal usul gejala-gejala alam seperti hujan, panas, gunung meletus, gempa bumi, tumbuh-tumbuhan, angin dan lain sebagainya. Roh yang dianggap mengatur fenomena-fenomena alam dan juga alam semesta karena bentuknya yang tidak kasat mata atau tidak dapat ditangkap oleh panca indera dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan manusia. Agar manusia purba dapat terus beraktivitas keseharian dengan penuh ketenangan, kelancaran dan sesuai harapan maka roh-roh tersebut perlu dihormati atau disembah. Penghormatan dan penyembahan manusia purba atas roh-roh pengatur alam semesta tersebut dilakukan dengan melakukan pembacaan doa-doa, pemberian sesaji, ataupun korban.

Dinamisme

Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baikbenda hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris) mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda suci itu mempunyai sifat yang luar biasa (karena kebaikan atau keburukannya) sehingga dapat memancarkan pengaruh baik atau buruk kepada manusia dan dunia sekitarnya. Benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaibdan dianggap suci ini disebut fetisyen yang berarti benda sihir. Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka, lambang kerajaan, tombak, keris, gamelan, cincin, kalung dan sebagainya akan membawa pengaruh baik bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit, menolak malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat tidak terdapat perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk tergantung kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan.

Politeisme

Seiring dengan mulai munculnya sistem pemerintahan (seperti kerajaan) kemudian roh-roh yang sudah dipersonifikasikan sebagai dewa juga hidup dalam susunan kenegaraan. Dengan demikian mulai munculan kepangkatan dewa-dewa, mulai raja dewa atau dewa tertinggi, hingga dewa-dewa lainnya yang lebih redah pangkatnya seperti dewa perang, dewa angin, dewabumidansebagainya.Munculnyadewa-dewaalaminilah yang kemudiandisebutpoliteisme. Dapat disimpulkan pada masa itu, masyarakat sempat meyakini bahwa dewa-dewa lah yang mempunyai kekuasaan penuh atas dunia dan atas diri mereka.

Monoisme

Dalam pandangan evolusinis agama adalah bagian dari hasil kreativitas manusia, dengan demikian agama adalah bagian dari kebudayaan. Agama dimulai dari yang paling sederhana yaitu kepercayaan pada animisme (pada roh nenek moyang), dinamisme, politeisme dan terakhir monoisme atau monoteisme.

Monoisme dipercaya sebagai perkembangan sistem kepercayaan terakhir dalam skema kelanjutan perubahan secara perlahan dan terus-menerus dari yang sederhana hingga yang kompleks. Sebelum lahirnya monoisme masyarakat sudah mengenal animisme yang menyatakan bahwa roh adalah penggerak atau faktor penyebab tidak kasat mata yang menyebabkan berbagai fenomena alam. Lambat laun roh tesebut dianggap memiliki kemiripan seperti manusia yaitu seperti memiliki suatu kepribadian dengan kemauan dan pikiran. Roh-roh tersebut kemudian dikenal sebagai dewa-dewa alam.
Pada perkembangan kecanggihan berfikir manusia selanjutnya manusia mulai beranggapan bahwa dewa-dewa yang bersusun secara hirarkis tersebut pada hakikatnya hanya merupakan penjelaan satu dewa saja, yaitu dewa tertinggi. Jika terdapat satu Dewa benar-benar mahasempurna maka mustahil dewa tersebut memerlukan dewa-dewalainnya. Akibat dari keyakinan itu kemudian berkembang tentang adanya satu Tuhan atau Tuhan Yang Maha Esadan mulai munculah kepercayaan-kepercayaan yang bersifat monoisme atau monoteisme sebagai tingkat terakhir dalam evolusi kepercayaan manusia.

Artikel Terkait: